Absurd

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

Rindu yang akhirnya membawaku pulang; menyadarkan logika bila aku sudah berdiri jauh dari ambang batas kemampuan.

“Cepatlah kauberpulang pada apa-apa saja yang menjadi semestinya. Kerena jika tidak, aku akan mengemasi semua masa silam yang kaupunya, biar kau tahu rasa dan tak bisa lagi bersua dengan beragam reaksi yang kupunya,” ucap Rindu pada suatu ketika (empat hari silam, jika tak salah ingat).

Di dua hari lalu, aku pun bergegas menemui Waktu; menanyakan tentang sebuah perihal yang kerap tertanggal:

“Sudah berapa banyakkah lupa yang terlanjur kupintal?”

“Satu. Tapi laju pikir dan rasamu telah menganak-pinakkannya menjadi banyak, tak terhingga.”

Ah, itu jawaban paling klise yang pernah kudengar dari Waktu; serupa dengan rancauan mereka-mereka yang tengah mabuk tuak.

Di duabelas jam yang lalu, aku dengan sengaja mendatangi Tiara; memintanya untuk membantuku mengingat-ingat sesuatu.

“Seharusnya kau tak perlu menyuruhku untuk menggetok batok kepalamu menggunakan palu, Njing. Sebab, selain terkesan surealis, yang sebenarnya kaubutuhkan itu hanya sekadar pelukan, bukan tindakan di luar nalar yang dapat mengganggu logika pembaca…”

“…sepertinya kau memang perlu berdamai dengan dirimu sendiri, Njing. Agar semua tentangmu tidak semakin absurd.