Alien Gedubrak!

5184 3096 Rengga Bagus Nanjar

Jakarta diserang alien! Sejak satu jam yang lalu, kotaku ini berubah menjadi kota mati. Aliran listrik padam total. Saluran telepon, baik yang berkabel ataupun yang berbasis provider, lumpuh total. Alhasil, akses internet yang terkadang menjadi alternatif komunikasi pun ikut-ikutan lumpuh. Jalanan terlihat lengang, cenderung sepi senyap. Angin enggan bertiup. Udara malam pun terjebak dalam kebimbangan—antara dingin dan panas. Situasi yang sangat mirip dengan film-film luar negeri, terlebih ketika pesawat dari planet antah-berantah mendadak menyerang bumi. Radiasi akibat pergerakan pesawat asing tersebut berdampak pada lumpuhnya aktivitas komersial di kota ini. Perlahan, bagian bawah dari pesawat asing yang berbentuk menyerupai mangkuk sup kare itu terbuka. Terlihat pancaran sinar yang jauh lebih terang dibanding pencahayaan konser grup dangdut Monata ataupun Sera. Sejurus kemudian, muncullah beberapa makhluk yang menyerupai robot—berbadan aneh dan berkepala aneka rupa—keluar dari gorong-gorong dan septic tank.

Aku mundur beberapa langkah, lalu mengendap-endap di balik drum minyak tanah yang sudah tak lagi terpakai. Mataku melotot, kupingku awas—mencerna setiap yang terdengar. Mulutku bergumam tak jelas dan tubuhku, sedikit merinding. Jujur! Aku masih tak mengerti sedang dalam situasi apakah aku saat ini? Apakah aku sedang bermimpi? Ah, bukan! Sebab ketika kucubit kulit tanganku, aku bisa merasakan sakit.

“Ada alien!” teriak seorang satpam dari arah selatan.

Kemudian, mahkluk asing yang disebut oleh satpam sebagai alien itu lantas menembakkan laser ke arah si satpam. Seketika, tubuh si satpam gosong dan mematung. Aku tercengang! Merinding penuh ketakutan dalam persembunyian. Semoga saja para alien itu tidak melihatku. Jika mereka melihatku, pasti aku akan ditembak laser juga.

***

Sudah satu jam berlalu, suasana di kotaku kini sudah tak lagi sepi-senyap seperti sebelumnya. Di sebelah halte trans Jakarta yang tersorot lampu kelap-kelip, terlihat alien berkepala Miyabi tengah berlenggak-lenggok menari Gangnam Style. Di depannya, ratusan penduduk kota terlihat menirukan gerakan si alien berkepala Miyabi. Sesekali mereka tertawa, kemudian bersorak, kadang mendesah manakala si alien berkepala Miyabi menari sambil memegangi tiang listrik. Celana mereka basah, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

Sedangkan di sepanjang jalan terlihat beberapa alien berkepala Dakocan tengah memegang tombak, panah, bom molotov, dan parang. Di belakang mereka, manusia-manusia berpakaian putih abu-abu terlihat berbaris memblokade jalan. Tak lama berselang, ratusan alien berkepala cangcorang datang menyerang. Kubu alien berkepala Dakocan pun tak tinggal diam. Dengan bantuan manusia berpakaian putih abu-abu mereka pun balik menyerang. Tombak, anak panah, dan bom molotov, beterbangan dari arah barat ke timur dan sebaliknya, dari timur ke barat.

Suara serbu-serang terdengar menggema. Alien berkepala cangcorang berhasil membacok manusia berpakaian putih abu-abu. Suara tolong membuncah. Tapi, peperangan tidak berhenti. Malah bertambah dahsyat. Bahkan, sekelompok manusia berseragam cokelat penuh wibawa yang datang dari arah selatan pun diserang, dilempari batu, dihujani anak panah, dan diteriaki: SAMPAH!

Suasana kota kini benar-benar kacau balau. Gedung-gedung perkantoran terbakar, pasar-pasar swalayan diserbu penjarah, pesawat-pesawat mini berbentuk harimau berterbangan memenuhi langit kota Jakarta. Tugu Monas runtuh tertabrak rudal dan gedung MPR pun dibuat luluh-lantak dengan sekali tembakan. Aku berlari, berusaha menyelamatkan diri dari berbagai ancaman bahaya. Terus berlari, mencari tempat yang sekiranya bisa membuatku merasa aman.

Hingga akhirnya, aku tiba di kolong jembatan. Di sini lebih aman. Tak ada suara tembakan ataupun suara ledakan bom. Tapi, di sini sangat riuh oleh suara minta tolong. Ya, di kolong jembatan ini, suara minta tolong seperti terdengar dari segala arah. Mulai dari dalam perut gelandangan, dari sela-sela rumah kardus, dari make-up tebal para waria, dari selangkangan para pelacur, dari wajah pongah para preman, dan dari mulut-mulut bocah yang kelaparan.

Ya, di sini, di kolong jembatan ini, suara minta tolong terdengar lebih mengerikan ketimbang suara tembakan, ledakan bom, apalagi sekadar desahan jalang.

Di sini memang aman dari serangan bom ataupun rudal. Tapi, di sini jauh lebih mengerikan, lebih mematikan, dan lebih memprihatinkan. Ya, seperti yang ada di hadapanku saat ini; seorang bocah berkepala pelontos tengah menggerogoti jari tangannya sendiri. Perlahan dengan penuh penghayatan, bocah tersebut mengunyah jari telunjuknya. Dihisapnya darah yang mengucur, kemudian berlanjut mengunyah jari kelingkingnya. Ia pun lantas tertawa terbahak ketika bocah kurus yang ada di sampingnya juga ikut memakan jari-jari tangannya. Mendadak aku merasa mual, kemudian muntah. Tiba-tiba, puluhan orang berbaju safari mengerubuti muntahanku dan menjilatinya. Sangat lahap, selahap kala aku menyantap gurami bakar dan ayam panggang.

“Gila! Kalian semua gila!” teriakku di tengah prosesi makan malam mereka.

“Kami tidak gila. Kami cuma lapar!” teriak bocah berkepala pelontos.

Arrrgh! Aku benar-benar pusing dengan semua ini. Aku cubit lagi kulit pipiku untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Sakit! Berarti ini semua bukan mimpi. Ini nyata! Senyata para alien berkepala tikus yang kini telah menguasai kolong jembatan ini.

Aku terperanjat, kemudian lari tunggang-langgang. Aku takut! Takut kalau-kalau aku ditembak menggunakan laser hingga gosong dan mematung. Aku bersembunyi entah untuk yang keberapa kalinya malam ini. Tapi, yang jelas, semakin kegilaan ini menjadi, aku semakin lebih suka bersembunyi. Bersembunyi di mana saja yang penting aman. Tak nyaman tak apa, yang penting, aman!

Dooorr. Terdengar suara tembakan.

Darah tumpah, tangis pecah. Satu penderitaan lenyap sudah. Ya, bocah berkepala pelontos yang memakan jari tangannya sendiri itu meregang nyawa dalam kondisi kelaparan. Ia mati ditembak alien berkepala tikus karena berusaha menggigit. Tak cukup sampai di situ. Alien berkepala tikus kemudian menyodomi mayat bocah tersebut. Setelah selesai, ia lantas memasukan mayat si bocah berkepala pelontos ke dalam karung dan membuangnya ke dalam sumur.

“Benar-benar biadab!” gerutuku.

“Itu bukan biadab, tapi manusiawi. Semanusiawi apa yang tengah kita lakukan saat ini, bersembunyi. Semua kejadian yang kita alami sekarang ini bukanlah sebuah mimpi. Ini adalah kenyataan yang kerap kita anggap sebagai ilusi. Ya, terlebih untuk pengecut seperti kita ini, yang gemar bersembunyi dan selalu merasa takut menghadapi kenyataan. Dan, karena kemanusiawian itulah kita menjadi acuh terhadap lingkungan sekitar, hingga membuat semua kenyataan ini bagaikan mimpi belaka. Sadarlah, Bung! Kita adalah bagian dari semua kegilaan ini. Kegilaan yang kita buat sendiri!” ucap seseorang yang ikut bersembunyi bersamaku.

“Lantas…, bagaimana cara kita mengakhiri semua kegilaan ini? Apakah kita harus mati baru semua kegilaan ini bisa berakhir?”

“Mati?! Mati itu bukan jalan keluar, Bung! Tapi bagian dari kenyataan yang mesti kita hadapi. Jika kau bertanya bagaimana cara mengakhiri semua kegilaan ini, maka kau harus menghadapi serta menjalani semua kegilaan ini. Bukan malah bersembunyi ataupun lari!”

“Aih, omong kosong! Lantas kenapa kau ikut bersembunyi di sini?!”

“Aku tidak bersembunyi. Tapi aku sedang mengikuti dirimu!”

“Maksudmu?”

Tiba-tiba, orang yang sedang berbicara denganku berubah menjadi seekor ular yang sangat besar, ia kemudian melilit tubuhku erat. Lilitannya kuat sekali, membuat tulang-tulangku patah. Kepala ular itu kini berada persis di depan wajahku. Lidahnya menjulur, desis suaranya terdengar miris. Dengan cepat ular tersebut mencaplok kepalaku. Gigi taringnya menancap tepat di mata kiriku. Darah muncrat. Aku berteriak sejadi-jadinya, kesakitan.

Gedubraaak! Aku terjatuh dari dipan tempat tidurku. Kepalaku membentur lantai dengan cukup keras, hingga benturannya menyisakan pening yang cukup berasa.

“Untung cuma mimpi,” monologku lirih.

***

Sayup-sayup kudengar seperti ada suara gaduh dari luar kamarku. Lantas, aku beranjak keluar dari kamar. Setelah sampai di ruang tengah, aku mendapati tubuh Ibu, Ayah, serta adik-adikku, telah gosong dan mematung.

Plaaaak! Leherku terasa seperti dipukul, lalu tubuhku jatuh tersungkur ke lantai. Tak berselang lama, aku merasakan ada sesuatu yang menghujam duburku; maju-mundur.

—oOo—

Cerpen ini termuat di buku Cerita dari Timur (Jentera Pustaka), 2014