Bedot

5184 3096 Rengga Bagus Nanjar

Pagi tadi, Sumali berteriak-teriak sambil keliling kampung. Ia mengabarkan bahwa Bedot—kambing jelmaan penunggu Bukit Lampir—terlihat berkeliaran di sekitar kandang ternak milik salah satu warga. Sumali panik bukan kepalang. Suaranya rancu terbata-bata, keringat mengucur deras dari wajahnya, dan tatapannya seperti orang sedang melihat ajal. Terang saja Sumali bersikap demikian. Pasalnya, bila si Bedot telah menampakkan diri, hal tersebut merupakan pertanda bakal adanya bencana besar yang akan menimpa perkampungan kami. Entah itu bencana banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, kekeringan, atau wabah penyakit antah-berantah yang terkadang sulit dinalar oleh akal sehat.

Konon, Bedot itu adalah jelmaan dari Patih Roro Padingurun yang di masa lampau cukup disegani keberadaannya. Kesaktian serta kecakapan ilmu yang dimiliki Patih Roro Padingurun, membuatnya dipercaya oleh Prabu Gondolagung untuk memimpin penyerbuan ke Tanah Papringan: kerajaan terbesar di daerah selatan, kala itu. Namun, rupanya, kepercayaan dari Prabu Gondolagung disalahgunakan oleh Patih Roro Padingurun.

Di tengah perjalanan menuju Tanah Papringan, Patih Roro Padingurun mempengaruhi ribuan pasukannya untuk memberontak dan berbalik menyerang kerajaannya sendiri. Dengan iming-iming kesejahteraan bagi pasukannya yang selamat serta acaman—akan dibunuh—bila tidak mematuhi perintah dari Patih Roro Padingurun, akhirnya, ribuan pasukan yang tadinya dipersiapkan untuk menyerang Tanah Papringan, kini berbalik arah dan bersiap untuk melakukan pemberontakan.

Singkat cerita, pasukan pemberontak yang dipimpin Patih Roro Padingurun berhasil menduduki istana. Banyak korban tewas dalam tragedi pemberontakan tersebut. Termasuk Prabu Gondolagung yang tewas di tangan Patih Roro Padingurun. Sayangnya, Prabu Gondolagung telah mengamalkan ilmu Bledug Sukmo: sebuah ilmu tingkat tinggi yang mampu mengutuk orang yang membunuh pengamal ilmu tersebut menjadi seekor kambing jelmaan.

Sejak peristiwa pemberontakan tersebut, Patih Roro Padingurun tidak diketahui lagi keberadaannya. Tapi, banyak orang yang mempercayai bahwa Patih Roro Padingurun memang telah dikutuk menjadi kambing yang mendiami Bukit Lampir. Bahkan, sampai saat ini, hampir sebagian besar warga di kampung kami masih memercayai mitos tersebut. Termasuk Sumali, yang pagi tadi mengaku melihat Bedot.

Menurut Sumali dan beberapa orang yang pernah melihat Bedot, wujud Bedot itu agak berbeda dibandingkan dengan kambing pada umumnya. Tubuh Bedot jauh lebih besar dua kali lipat dari kambing etawa. Kepalanya memiliki tiga tanduk dan tiga mata. Warna bulunya semu kemerah-merahan dengan kelir garis hitam di perut sebelah kanan. Suaranya pun tidak mengembik, melainkan mengaung bagai serigala hutan.

Enam tahun lalu, Bedot pernah menampakkan diri di kali ujung perkampungan. Selang seminggu setelah kemunculan Bedot di kali, perkampungan kami diterjang banjir bandang yang menelan banyak korban jiwa dan materi.

Dua tahun lalu, Bedot juga pernah menampakkan diri di tengah perkampungan. Bahkan, sempat ada beberapa warga yang mengejarnya. Namun, para warga yang mengejar Bedot mendadak terjatuh dan tiba-tiba kaki mereka menjadi lumpuh. Lalu, selang sehari dari peristiwa itu, beberapa warga kampung terjangkit penyakit aneh. Kulit mereka mengelupas dan mulut mereka mendadak menjadi bisu.

Sudah puluhan mantri dan dukun yang mengobati mereka. Tapi, penyakit aneh tersebut tak kunjung sembuh. Akhirnya, satu per satu dari mereka mati dengan kondisi yang mengenaskan.

***

Kami berkumpul di sebuah padepokan bekas sanggar tari. Istilahnya kami tengah rapat. Tapi, bukan rapat kenegaraan ataupun rapat paripurna. Sebab, di sini kami tidak tidur ataupun sekadar menonton video porno. Kami terjaga dan sangat serius membahas perihal kemunculan Bedot tempo hari.

“Seperti yang sudah-sudah. Jika Bedot menampakkan diri, maka bakal ada bencana yang akan menimpa perkampungan kita!”

Ucapan Kardiman barusan membuat kami menebak-nebak. Kira-kira bencana apa lagi yang akan menimpa kampung ini? Banjir bandang sudah. Wabah penyakit aneh juga sudah. Kekeringan, kebakaran hutan, atau kelaparan yang berikutnya?

Ah, sepertinya ketiga bencana tersebut sudah menjadi langganan kampung kami. Setahun sekali, kampung kami pasti mengalami kekeringan selama tiga bulan lebih. Kemudian, akan disusul kebakaran hutan. Ah, aku kurang begitu tahu tentang penyebab kebakaran hutan di ujung kampung kami. Ada yang bilang bahwa hutan di ujung kampung sengaja dibakar oleh orang-orang yang hendak membuka lahan. Tapi, ada pula yang bilang bahwa hutan di ujung kampung terbakar karena kecerobohan warga kampung. Entahlah, yang pasti, kebakaran hutan tersebut kemungkinan besar karena ulah manusia. Sebab tak mungkin hutan di ujung kampung kami bisa terbakar dengan sendirinya.

Lalu, setiap bulannya, warga kampung kami pasti ada yang kelaparan. Namun, bukan karena mereka tidak bekerja hingga kebutuhan pangan mereka tak terpenuhi. Mereka bekerja, bahkan hampir separuh dari hidup mereka habis untuk bekerja. Tapi, hasil dari kerja keras mereka hilang tertelan bencana: kekeringan atau lebih seringnya tertelan hawa nafsu yang tak tertahan.

Kadang, kekeringan membuat cocok tanam warga menjadi mati. Gagal panen yang akhirnya berujung frustasi. Tak ada penghasilan. Sebaliknya, kebutuhan semakin meningkat. Bagi yang bermental gedhek akan memutuskan berhutang kepada warung agar bisa tetap makan. Yang bermental nekat akan memutuskan berhutang pada lintah darat untuk modal usaha agar bisa memperbaiki taraf kehidupan, pikirnya. Lalu, yang bermental malu, akan memilih berdiam pasrah menahan lapar sembari menunggu uluran sumbangan dari tetangga kiri-kanan yang masih mampu. Sisanya, akan memilih merantau ke kota atau hijrah ke negeri seberang. Hingga akhirnya, mereka akan lupa pada sanak-saudara dan kampung halaman mereka. Entah di sana mereka kenyang sampai lupa rumah atau bisa jadi mereka mati kelaparan di perantauan. Entahlah….

“Sepertinya kita harus melakukan ritual seserahan sesaji di Bukit Lampir!”

“Bagaimana kalau kita meminta bantuan Ki Sentong saja?! Dia, kan, dukun sakti. Pasti tahu bencana apa yang akan menimpa kampung kita.”

“Kita harus membentuk tim penanggulangan bencana!”

Bla bla blaaa….

Opini-opini warga kampung sahut-menyahut tanpa titik terang dan semakin tidak masuk di akal.

“Kenapa kita mesti risau?! Jika Tuhan sudah menakdirkan, kita tidak mungkin bisa mengelak. Dan, soal kemunculan Bedot seperti yang saudara Sumali ungkapkan, seharusnya kita tidak perlu seheboh ini menyikapinya. Bukankah tanpa kemunculan Bedot pun, kampung kita ini sudah menjadi langganan bencana, kan? Begitu juga dengan kampung-kampung yang lain. Di sana tidak ada Bedot, tapi kampung mereka terkadang juga diterjang beragam bencana.” Pak Rohadi salah satu sesepuh adat kampung kami berusaha menenangkan rapat yang mulai kacau.

“Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Pak Rohadi. Kenapa mesti melakukan ritual sesaji di Bukit Lampir segala? Bukankah yang menghendaki segala hal di dunia ini adalah Tuhan! Bukan Bukit Lampir ataupun penunggunya? Untuk apa juga bertanya pada dukun? Bukankah pernyataan dari dukun selama ini lebih banyak yang menyesatkan ketimbang yang bermanfaat? Lalu, kenapa juga kita mesti membentuk tim penanggulangan bencana? Bukankah jenis bencananya saja belum diketuhui? Lantas, kenapa pula kita sok-sok’an menantang takdir Tuhan dengan menerka-nerka serta berusaha membelokkan garis takdir-Nya?!” Setelah puas nyerocos, aku pun kemudian berlalu meninggalkan mereka.

Goblok! Benar-benar goblok! Kenapa selama bertahun-tahun aku dan sebagian warga kampung lebih mempercayai mitos ketimbang Tuhan kami sendiri?! Bukankah mempercayai mitos Bedot sama halnya dengan kisah Prabu Gondolagung yang mempercayai Patih Roro Padingurun? Percaya pada sesuatu dan seseorang yang akhirnya malah mendatangkan bencana. Jika saja Prabu Gondolagung tidak mempercayai Patih Roro Padingurun, kemungkinan besar pemberontakan itu tidak akan terjadi. Begitu juga dengan kami. Bila kami tidak mempercayai mitos Bedot, kemungkinan kampung kami tidak akan diterjang bencana antah-berantah seperti yang sudah-sudah. Toh, tanpa Bedot muncul pun, kampung kami sudah menjadi langganan bencana setiap tahunnya. Kekeringan, kebakaran hutan, serta kelaparan, adalah bencana yang seharusnya bisa menjadi pembelajaran bagi kami. Dan tentang kemunculan Bedot, hal tersebut bisa jadi pertanda ataupun teguran dari Tuhan agar kami lebih sadar diri. Ya, mungkin saja Tuhan menggunakan Bedot sebagai media perantara penyampai pesan karena warga kampung lebih mempercayai Bedot ketimbang teguran-teguran dari Tuhan yang sifatnya jauh lebih abstrak. Ya, mungkin saja….

Samar-samar aku melihat ada sesuatu—sosok—yang bergerak ke arahku. Tadinya, kukira sosok itu adalah warga kampung yang tengah ronda. Namun, semakin dekat, sosok tersebut nampak seperti… KAMBING! Ya, itu jelas kambing! Tapi, kambing milik siapa malam-malam begini berkeliaran di luar kandang? Jangan-jangan…?

***

Sabtu siang, ratusan orang dari berbagai kalangan memenuhi tempat ini. Mulai dari kalangan pejabat, orang awam, pers, sampai aparat penegak hukum, terlihat memadati gedung pengadilan ini. Ya, hari ini adalah sidang pembacaan vonis hukuman atas kasus yang menimpaku. Setahun yang lalu, pengeboran sumur minyak yang aku lakukan mengalami masalah. Sumur yang seharusnya menghasilkan minyak bumi mentah malah meledak hingga menyemburkan luapan lumpur. Puluhan pekerja tewas dalam kejadian tersebut. Beberapa desa yang terletak di sekitar area pertambangan minyak milikku pun terendam luapan lumpur. Kemudian, proyek penambangan emas yang aku gagas bersama kolegaku juga tersandung masalah. Mulai dari izin sampai tragedi longsor yang mengakibatkan ratusan pekerja tewas. Dan, yang terakhir, bisnis kayu ilegal yang aku kerjakan dengan salah satu pejabat negeri ini terendus oleh aparat. Alhasil, aku dijerat banyak kasus dalam waktu yang hampir bersamaan.

Tubuhku lemas, pandangan mataku pun berkunang-kunang. Suara bising di gedung pengadilan ini membuat telingaku menjadi ampang. Aroma penghakiman tercium jelas dari balik kamera-kamera jurnalis. Kuseka keringat yang mulai membanjiri pelipisku. Dan, bayang-bayang sepuluh tahun lalu kembali menghantui otakku. Mulai dari Sumali yang menjerit-jerit, lalu sikap warga kampung yang berlebihan prihal kemunculan Bedot, sampai saat aku bertemu dengan sesosok makhluk yang wujudnya menyerupai kambing.

Ya, aku melihat Bedot saat itu. Bahkan, tak hanya melihat. Bedot juga menghampiriku, mengajakku berbicara, hingga kemudian masuk ke dalam tubuhku—menyatu dengan hati dan otakku. Ya, sejak saat itu Bedot bersemayam di dalam tubuhku: menjadi bagian yang tak mungkin terpisahkan dari diriku.

Aku menghirup napas lega ketika hakim memvonisku bebas. Lalu, aku tersenyum saat melihat orang-orang yang memenuhi gedung pengadilan ini, semua wajahnya berubah menyerupai Bedot.

(*)

Cerpen ini dimuat di koran Joglosemar, Minggu, 30 Desember 2012