Bukan Cinta, tapi Perkara Rembulan Pepat dan Cerita-Cerita dari Si Cangkir yang Membuat Manusia Menjadi Gila

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

/1/

ada yang tertinggal di bibir cangkir

tapi bukan bekas lipstik ataupun ampas kopi

melainkan sekelumit cerita yang kerap tertanggal lantaran jeda kerap menyambang

“Jangan kaucuci cangkirnya! Biarkan ia yang melanjutkan cerita.”

“Gila! Bagaimana bisa cangkir bercerita? Kaupikir dia itu keponakannya Dongeng Seribu Satu Malam, hah?!”

“Usah mendebat! Buktikan saja. Jika apa yang kuucap tak terbukti benar, baru kau boleh mengutuki cinta.”

/2/
gila yang mungkin kan dikata orang

perihal tingkahku yang gemar bercakap dengan rembulan

tapi, asal kau tahu, kawan, sesungguhnya aku tak benar-benar bercakap dengan rembulan…

“Aku akan bercerita, tapi hanya saat rembulan membulat dengan pepat. Dan, jangan lupa, nanti, saat aku tengah bercerita, tolong pandangilah rembulan; buat dirimu seolah sedang bercakap dengannya. Sebab, hal tersebut satu-satunya cara agar tak melahirkan kecurigaan.”

“Jika aku lupa; melanggar apa yang kauwejangkan, apakah kau akan menghadiahiku sebuah kutukan?”

“Tidak! Sebab tugas cangkir bukanlah mengutuk, melainkan menceritakan kisah dari serentetan cerita yang tak pernah khatam dikisahkan oleh manusia.”

/3/
aku masih menunggui rembulan membulat dengan pepat, sekalipun si cangkir telah pecah di duaributigabelas

gilakah?

iya!

tapi jangan kauberitahu cinta, ya!