Karsinah Tak Marah, Apalagi Meradang, Sekalipun Ia Membawa Pedang

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

Karsinah hanya mengulum ludah manakala otak dan hatinya telah berpindah tempat: dari jauh pemahaman ke dasar cerna sembarangan

ya, Karsinah biasa, tak meradang, tak pula muntab apalagi sampai mencak-mencak

toh yang hilang darinya bukan pelukan, melainkan hanya sekadar gambar dan cerita-cerita yang tak pernah usai dikisahkan

“Kau tahu apa tentang hilang?” tanya Karsinah pada pecahan kaca yang kerap menghibahkan luka pada telapak lunak berwarna cokelat

“Bukankah selama ini kau tak pernah dipeluk?” sambung Karsinah dengan nada setengah oktaf. “Tapi, kenapa kau bisa seenak jidat mendifinisikan hilang dengan gambar luka karena sayatan? Kau mabuk, ya? Jawab, hah?! Darimana muasal semua alasan kita yang serupa? Jangan kau bilang kebetulan, ya. Awas!”

Karsinah tak marah, apalagi meradang, sekalipun ia membawa pedang

Karsinah hanya sekadar bertanya: bagaimana bisa kaumendifinisikan hilang dengan gambar luka karena sayatan? bukankah selama ini kau tak pernah dipeluk, tak pernah memeluk, dan tak jua terkutuk?