Kuawuk

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

jauh sebelum bergelas-gelas tuak ditengak oleh Tuan, mendung sudah terlebih dulu mengumbar muka-muka bantal. setelahnya, barulah manusia-manusia macam Tuan mulai menimang-nimang kantuk dengan kepalang.

kasihan para Tuan, dan yang sial malah para Puan: kalang-kabut kemasi yang masih basah dari jemuran (ah, tingkahnya sudah serupa pahlawan kesiangan: teriak-koar wartakan hujan pada tetangga seperjuangan, sambil sesekali mengumpati anugrah Tuhan).

“Jika kaubenci hujan, kenapa busanamu malah gemar kaubuat basah?”