Long Lang Lek Ling

825 550 Rengga Bagus Nanjar

Njing begitu gemar menanggalkan logika ketika jatuh cinta. Bahkan, ia pun tak pernah mau peduli pada cahaya bintang yang makin hari kian langka karena kerap dijadikannya tumbal. Pasti, setiap kali jatuh cinta, Njing akan mencuri bintang; memotong bagannya, mengambil bagian yang paling terang, kemudian diberikannya pada yang tengah dicintainya. Embel-embel sebuah hadiah, agar dianggap dermawan. Padahal, siapa pun yang tangah dicintainya, kesemuanya hanya ingin melihat Njing menjadi gila.

***

Lengkap sudah Njing punya derita. Setelah ditinggalkan tanpa sebab oleh mereka-mereka yang dicintainya, kini giliran malam yang mengerjainya dengan pelbagai drama. Ya, malam sepertinya telah murka lantaran Njing gemar mencuri bintang. Dan, malam pun akhirnya  memberi Njing pelajaran tentang arti kecolongan.

Tanpa permisi, malam pun mengambil dan menyembunyikan sebagian hati milik Njing—setimpal dengan laku Njing yang kerap mencuri bintang dan memotong-motongnya menjadi banyak bagian. Alhasil, di setiap petang, Njing akan beringsut dari ranjang; keluar dari rumah kemudian melanglang buana untuk mencari hatinya yang hilang.

Njing menyusuri semua jalanan yang bisa dijejaki. Mulai dari gang-gang sempit, jalan tikus, jalan setapak, sampai jalan bayi, pun juga disusurinya. Dan, pada setiap manusia yang tengah lalu-lalang serta yang ditemui, pasti Njing akan bertanya: “Apakah kau tahu di mana keberadaan hatiku?” Sayang, semua yang ditanyai rata-rata menggeleng, mengerlingkan alis, atau bahkan acuh melempar sinis.

Njing juga pernah mendatangi cenayang, dukun, paranormal, dan sebangsannya.

“Apakah si Mbah tahu di mana keberadaan hatiku?”

Sialnya, bukan petunjuk ataupun jawaban pasti yang didapati, melainkan gatal-gatal di sekujur tubuh yang Njing dapatkan lantaran salah satu dukun pernah menyuruhnya untuk berendam di dalam saptic tank.

Tak hanya sampai di situ. Sebab, Njing juga mendatangi setiap rumah; mengetuk pintunya dan bertanya tentang hal yang sama pada setiap empunya.

“Apakah Tuan dan Puan tahu di mana keberadaan hatiku?”

Tapi, sialanya lagi, gelengan kepala, umpatan serapah, atau bogem mentah, yang lebih sering menjadi jawabannya. Pasalnya, Njing gemar mengetuk pintu rumah seseorang pada lewat tengah malam; saat si empunya rumah sudah terlelap atau mungkin juga saat si empunya rumah sedang bergumul membuat anak.

Di lain kesempatan, Njing juga mendatangi setiap warung remang-remang, tempat hiburan malam, dan lokalisasi kelas kecoa, untuk mencari hatinya yang hilang; menanyai penghuninya satu per satu—mulai dari yang duapuluhribuan sampai yang jutaanrupiah.

“Apakah kau tahu di mana keberadaan hatiku?”

Dan, ketika tak didapati jawaban dari mereka, Njing pun memutuskan untuk menelanjangi mereka, menyusui mereka, menindih mereka, dan merobek-robek payudara mereka. Namun, sayangnya Njing tak menemukan hatinya di dalam sana, yang Njing dapati hanya sekadar tulisan: Ada uang abang kusayang, tak ada uang abang kutendang.

Lantas, Njing berlanjut merobek-robek selangkangan mereka satu per satu. Tapi, lagi-lagi yang Njing temui hanyalah tulisan—demi SPP anak, demi dapur ngebul, demi bayar hutang, demi belanja bulanan, demi keluarga di kampung, serta demi gadget baru—yang ada di tiap selangkangan mereka.

Njing frustasi, dan bagian tubuh yang telah dirobek-rebeknya lantas disumpalinya menggunakan nominal uang—sesuai dengan harga yang ada dalam kesepakatan. Njing pun kemudian meninggalkan mereka dengan satu kesimpulan: tak ada hati di sana, yang ada hanyalah nafsu dan uang.

***

Njing biasanya akan pulang dari prosesi melanglang buana mencari hati yang hilang ketika kumandang adzan subuh telah menggema. Kemudian Njing akan meringkuk pulas di atas ranjang selama dua sampai tiga jam saja. Setelah itu, Njing akan bergegas menuju ke tempat mendulang rupiah dengan wajah yang kuyu, lengkap dengan semburat pilu yang membentuk garis kerutan nan mendayu.

***

Pada purnama ketiga di tahun naga, Njing dengan sengaja mendatangi rembulan. Namun, kedatangan Njing bukan untuk mencuri rembulan dari pelukan sang malam, melainkan kedatangan Njing menemui rembulan adalah untuk berkeluh-kesah; menceritakan segala beban derita, menyampaikan penyesalan, serta meminta jalan keluar dari persoalan yang tengah dihadapinya.

Untungnya, si rembulan bersedia memberikan petuah meskipun hanya sekadar…

“Belekno opo seng wes mbok colong. Nek kowe ora biso, nyembaho njuk njalu’o ngapuro karo seng wis nyiptakke alam nduyo.” [¹]

Setelah mencerna wejangan dari sang rembulan, Njing pun lantas bergegas menemui mereka-mereka yang dulu pernah dicintainya untuk meminta kembali potongan bintang yang pernah diberikan.

Kemudian, Njing juga menggali beberapa gundukan tanah untuk mengambil potongan bintang yang pernah dikuburnya bersama kenangan. Njing juga menyusuri sungai sampai ke muaranya guna mencari potongan bintang yang pernah dilarungnya. Bahkan, Njing juga mengais-ngais tempat sampah dan mendatangi TPA, berharap ada orang yang membuang potongan bintang yang dulu juga pernah dibuangnya. Tapi, sayangnya kesemua potongan bintang yang dicari oleh Njing telah hilang, tak ada di tempat, entah di mana—tak berimba.

***

Njing menjadi semakin frustasi setelah segala cara dan upaya untuk mengumpulkan serta memulangkan akan apa yang pernah dicurinya tak membuahkan hasil. Dan, hal tersebut membuat hari-harinya makin tak berwarna, tak memiliki rasa, dan tak bergairah. Tubuh Njing makin kurus, matanya sayup, rambutnya kusut, dan wajahnya, makin dipenuhi garis kerutan karena guratan pilu.

Njing pun akhirnya tak lagi melanglang buana ketika waktu petang telah datang. Njing juga tak lagi hadir ke tempat biasa ia mendulang rupiah. Hanya di atas ranjang Njing menghabiskan sebagian besar waktunya.

Benar-benar menyedihkan! Terlebih untuk seorang bajingan macam Njing—yang di mana pada tahun-tahun kemarin lakunya begitu arogan. Tapi, sekarang Njing tak lebih dari sekadar pecundang; pesakitan yang bersinggasana ranjang dan hampir gila karena dikerjai malam.

***

Petang menjalar, menggusur peran senja yang sedikit gagal. Malam pun telah bersiap untuk perankan gelap dengan beragam cerita. Sedangkan Njing? Masih saja meringkuk di atas ranjang. Tak beranjak karena memang tak berdaya, sekarat!

Namun, di saat Njing sekarat, mereka-mereka yang pernah meninggalkan Njing tanpa alasan yang jelas, satu per satu mulai datang dan memberinya warna, rasa, serta gairah. Bahkan, mereka juga memberi Njing potongan bintang yang sangat benderang. Jauh lebih benderang dibanding potongan bintang yang pernah Njing berikan pada mereka.

Perlahan-lahan, Njing mulai bangkit; merajut semangat, menata hidup, serta merangkai potongan-potongan bintang agar kembali utuh. Lantas, ketika petang datang, Njing mulai beringsut dari ranjang; keluar dari rumah untuk kemudian mengembalikan bintang pada malam.

Ya, meski jumlah bintang yang dikambalikan tak sama dan wujud bagannya pun sangat jauh berbeda, namun rupanya malam tak mempermasalahkan hal tersebut. Mungkin karena itikat serta niat dari Njing-lah yang telah membuat malam menjadi rela untuk memberi pemakluman dan juga mengembalikan sebagian hati milik Njing.

“Aku hanya mengambil sebagian hatimu. Jadi yang kukembalikan pun juga sebagian.”

“Lantas, hatiku yang sebagian lagi di mana?”

“Entah, mungkin tercecer hingga terserak, mungkin terberai menjadi banyak bagian, mungkin tersemat di berbagai bagan, mungkin menghitam – membusuk – memudar – mati, atau mungkin saja kau hanya sekadar lupa; lupa menaruhnya di mana, lupa menyimpannya di mana, lupa menitipkannya di mana, serta lupa di mana dan pada siapa kau pernah berbagi hati. Mungkin….”

Njing lantas beranjak dari hadapan sang malam dengan beragam tanya, beragam rasa, serta hati yang hanya sebagian. Kemudian Njing mulai mencoba untuk mengingat-ingat. Mengingat-ingat apakah ia pernah berbagi hati, menitipkan hati, menyimpan hati, menghitamkan hati, menyematkan hati, atau membunuh hati. Njing mengingat-ingat lagi. Kira-kira kapan, di mana, kenapa, mengapa, dan pada siapa.

Njing mangingat-ingat lagi. Dan, bila tak ingat, Njing akan mendatangi tempat-tempat yang sekiranya bisa membuatnya menjadi teringat. Njing juga kembali menanyai siapa saja agar bisa membuatnya menjadi teringat.

Njing terus mengingat-ingat. Sampai akhirnya Njing pun teringat pada Yang Memang Seharusnya Diingat. Kemudian Njing bergegas menghadap kepada Yang Memang Seharusnya Diingat. PadaNya, Njing tumpahkan segala keluh-kesah, bertanya ini-itu, meminta ini-itu, dan … ajaib! Semakin sering begitu, Njing makin teringat pada Yang Memang Seharusnya Diingat. Bahkan, tanpa diingatkan sekali pun. Njing pasti sudah ingat, terus teringat, dan selalu mengingat-ingat.

Puncaknya, Njing dihadiahi cahaya oleh Yang Memang Seharusnya Diingat. Tak hanya satu cahaya, tapi banyak. Dan, kesemua cahaya tersebut sangat benderang. Bahkan jauh lebih benderang dibanding potongan bintang paling terang yang pernah Njing lihat. Kesemua cahaya tersebut juga memiliki nama. Namanya pun berdeda-beda, dan bisa dikenali dengan cara merasa—dirasa.

Njing makin gemar mengingat, teringat, atau sekadar mengingat-ingat. Semakin ingat, cahaya yang diberikan oleh Yang Memang Seharusnya Diingat semakin banyak. Dan, dengan makin bertambahnya cahaya yang dimilikinya, Njing jadi teringat pada mereka-mereka yang jarang diingat, yang jarang mengingat, dan yang jarang teringat pada Yang Memang Seharusnya Diingat.

Njing pun latas membagi-bagikan cahaya miliknya. Pada siapa saja, kapan saja, serta di mana saja. Tanpa terkecuali dan tanpa pandang bulu. Ya, dengan semakin seringnya Njing membagi-bagikan cahaya. Tanpa disadari oleh Njing, hatinya yang tadinya hanya tinggal sebagian akhirnya bisa menjadi utuh kembali.

—oOo—

Keterangan:
[¹] Belekno opo seng wes mbok colong. Nek kowe ora biso, nyembaho njuk njalu’o ngapuro karo seng wis nyiptakke alam nduyo. = *Pulangkan apa yang sudah kamu curi. Jika kamu tidak bisa, menyembahlah / bersujudlah dan mintalah ampunan pada yang sudah menyiptakam alam semesta.

*Long Lang Lek Ling adalah singkatan dari Nyolong, Ilang, Golek, Iling: Mencuri, Hilang, Cari, Ingat—Mengingat.