Perihal Nona dan Segala Macam Hal yang Tak Jelas

5184 3280 Rengga Bagus Nanjar

Nona masih duduk menyulam di atas kursi rotan yang nampak mulai mengusang. Sesekali Nona bernyanyi; mengikuti irama lagu Ebony And Ivory-nya Stevie Wonder & Paul McCartney yang mengalun dari tape recorder tua miliknya.

“We all know that people are the same wherever yo go…”

Sejenak, Nona akan menghentikan prosesi menyulamnya. Kemudian Nona akan menggerak-gerakan tangannya seperti dirigen orchestra.

“Ebony ivory living in perfect harmony … ebony ivory, oh…”

Nona akan terus bertingkah seperti itu. Biasanya sampai larut, sampai lelah, dan sampai tape recorder yang memutar kaset pita Best of Top Part 7 mengeluarkan bunyi cetet.

(*)

Nona bergegas beringsut dari keterjaannya akan tidur. Pada remang yang berkunang-kunang, Nona coba dulang sadar dan menghampir ke empunya kumandang. Empat sujud. Setelah itu, tungku pengapian di dapur akan Nona tiup hingga menjadi unggun. Menanak, dan kemudian memasak. Tak peduli nantinya akan habis termakan atau tidak. Yang penting saat waktu sarapan tiba, meja makan di ruang tengah sudah siap menjamu keluarga Nona dengan hidangan yang bisa dikatakan layak.

(*)

Nona memoleskan sedikit bedak Viva di muka. Lalu bibir, dipulas menggunakan lipstik warna merah muda. Alis pun diarsir, tapi hal itu tak terlalu sering. Yang terpenting make-up dan tatanan rambut harus mecing. Short and slick—rambut ditata flat; lalu poni dengan bagian rambut yang lainnya dipisahkan menggunakan pita sehingga menghasilkan clic look—adalah model rambut favorite Nona. Untuk busananya, Nona lebih suka mengenakan dress polkadot motif bunga atau kemeja kotak-kotak yang dipadu dengan celana baggy.

 

***

Nona tidak suka diatur, dan bila apa yang ingin dilakukannya ditentang ataupun dilarang, maka Nona pasti akan marah-marah, kemudian mengamuk. Seperti saat ayahnya melarang untuk tidak menghidupkan tape recorder dan bernyanyi-nyanyi di malam hari; seperti saat ibunya memarahinya karena membeli tungku dan membuat suasana dapur menjadi kuno; seperti saat para keponakan mencibirnya lantaran dandanannya sudah ketinggalan zaman; seperti saat teman-temannya meledekinya sok alim lantaran rajin bersembayang. Ya, teguran, sindiran, serta cibiran semacam itu biasanya akan langsung dihadiahi dampratan oleh Nona. Atau jika mujur, Nona akan mengacuhkannya tanpa menanggapinya sama sekali.

Soal hobi, ketika teman-temannya mulai menggilai pernik dan segala macam hal yang berbau dengan Suju, Nona malah lebih suka menjadi pegiat filateli. Begitu juga ketika teman-temannya mulai memuja beragam jenis media sosial: mendewakan twitter, berdo’a di G+, bergosip di YM, pamer dada di instagram, berhaha-hihi di forum, atau sekadar menikah dan bercerai di facebook tanpa surat keterangan yang sah.

Ya, Nona lebih suka mengumbar privasinya pada benda yang Nona sebut dengan diary. Kuno. Tapi Nona merasa aman dan nyaman tanpa harus memusingkan soal laikdis, polower, ataupun sekadar jumlah piyu. Pun ketika tengah malam ibunya masih terjaga dengan selancar mayanya. Nona tak sedikit pun berminat nimbrung apalagi kepo terhadap aktivitas ibunya. Nona lebih memilih menyulam sambil memutar kaset pita atau menina-bobokan adiknya yang masih balita.

***

Namanya Prasasti Viona, tapi lebih suka dipanggil Nona. Dan, Nona pun bukanlah gadis biasa, karena Nona berbeda, tak seperti gadis pada umumnya. Ketika sedang menyulam ataupun saat menyayikan lagu Ebony And Ivory, Nona bukanlah Prasasti Viona, melainkan Juliana Roos yang hafal lagu-lagu klasik dan mahir berbahasa Belanda. Lalu, ketika sedang berada di surau dan di dapur, Nona bukanlah Prasasti Viona, melaikan Siti Bajenat si abdi Kraton Kasunanan. Dan, ketika berias serta tampil modis, Nona bukanlah Prasasti Viona, melainkan Natasha Esther yang tergila-gila pada artis asal New Mexico: Demi Moore.

Sekilas, kisah Nona seperti kasus yang menimpa Shirley Ardell Masonoleh Cornelia Wilbur, identitas Shirly disamarkan menjadi Sybil Isabela Dorsett (Sybil). Di mana kisah tentang Sybil merupakan kasus Dissociative Identity Disorder (DID) paling terkenal di dunia. Dalam bukunyaSybilyang menjadi best seller di tahun 70-an, Cornelia Wilburpenulis sekaligus psikolog yang menangani Sybilmengungkapkan: Sybil itu memiliki 16 kepribadian yang masing-masing kepribadiannya juga memiliki nama-nama yang berbeda.

Di lain sisi, kisah Nona mungkin juga seperti kisah hidup Anna Esseker di film Mirrors karya Alexsandre Aja. Tapi, soal Nona itu sebenarnya mirip siapaSybil atau Anna Esseker? Hal tersebut masih menjadi sebuah teka-teki. Sebab, memang tak ada seorang pun yang tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Nona. Karena selama ini, baik Nona sendiri maupun keluarganya tak pernah berkonsultasi pada psikolog ataupun sekadar bertanya pada dukun.

***

Ketika umurnya mengiinjak kepala dua, Nona mengalami banyak perubahan yang sangat signifikan. Tak ada lagi rutinitas menyulam sembari memutar kaset pita, tak ada lagi ritual memasak apalagi ritual sembayang, dan tak ada lagi dandanan kuno ala Demi Moore.

Ya, di usianya yang memasuki kepala dua, Nona telah menjelma sebagai manusia modern yang hedonis. Di mana Nona lebih suka terhadap sesuatu hal yang praktisinstan dan bersifat kekinian.

Nona juga bukan lagi seorang pemarah. Dan ketika apa yang ingin dilakukannya ditentang ataupun dilarang, Nona tak pernah lagi menganggapnya sebagai persoalan yang perlu dipermasalahkan.

“Ini hidup gue! Siapa elo?!”

Ya, kehidupan Nona kian hari kian liar; bebas tanpa aturan hingga terkadang kelewat batas. Terlebih lagi ketika Nona telah menjadi seorang pesohor. Di mana segala hal tentang Nona selalu menjadi sorotan sekaligus panutan banyak orang. Mulai dari style Nona yang selalu menjadi trendsetter, gaya hidup Nona yang selalu di-follow oleh banyak orang, serta beragam sensasi, aksi, dan kontroversi dari Nona yang kerap mencuri banyak tempat di televisi. Bahkan, kebiasaan Nona yang kerap melancong ke berbagai negeri telah membuatnya semakin cerdas dalam mempengaruhi publik.

Lewat gaya hidup serta budaya ciptaannyayang menggabungkan unsur westernisasi, Korean wave, dan hedonisNona mampu membuat dirinya semakin digandrungi. Tak hanya oleh kalangan sesama pesohor dan penggemarnya saja. Namun, kalangan kapitalis dan anak-anak ingusan yang masih gemar menagis pun mulai ikut-ikutan memuja serta menjadi bagian dari euforia Nona.

Kian hari, orang-orang yang membicarakan Nona semakin bertambah banyak saja. Bahkan, konten yang dibicarakan pun semakin beragam. Malah, ada juga yang ngawur dan cenderung dibuat-buat. Hingga pada suatu ketika, Nona mendapati ada sesuatu yang janggal pada tubuhnyaNona menemukan ada mulut yang tersemat di perutnya. Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, bukan pula sesuatu yang ngawur, melainkan kenyataan!

Awalnya, mulut tersebut muncul di bagian perut, kemudian di punggung, lalu di paha, terus di ketiak, lantas di … ah, pokoknya tubuh Nona disemati banyak mulut. Tapi, anehnya, jumlah mulut tersebut kadang berkurang, kadang bertambah, kadang berkurang lagi, kadang bertambah semakin banyak, kemudian berkurang lagi; tempat munculnya pun berpindah-pindah. Membingungkan!

Agar hal tersebut tak diketahui oleh publik. Maka Nona pun mulai mengenakan busana yang sekiranya bisa menyembunyikan serta menutupi keberadaan mulut-mulut tersebut. Jika tadinya Nona gemar memakai bikini dan tank tops, kini Nona lebih memilih memakai kaos kombor atau kemeja lengan panjang agar keberadaan mulut yang tersemat di bagian ketiak dan lengannya menjadi tak kentara. Pun juga demikian, jika tadinya Nona gemar memakai rok mini dan celana hot panst, kini Nona lebih sering memakai rok panjang ataupun denim setumit guna menutupi keberadaan mulut yang tersemat di bagian paha dan betisnya.

Namun, dengan semakin seringnya Nona tampil di depan publik, apalagi terlihat di televisi, mulut-mulut tersebut malah semakin bermunculan di mana-mana. Tak pelak, hal tersebut membuat Nona menjadi semakin kalang-kabut. Maka, Nona pun memutuskan untuk memakai busana ala kaum bercadar. Tapi, sialnya, hal tersebut malah membuat tubuh Nona tak hanya disemati oleh mulut semata, namun juga disemati oleh puluhan pasang mata yang ikut bermunculan di sekujur tubuh Nona. Bahkan, sebelah mata milik Nona pun kini telah disemati mulut yang setiap saatnya mengeluarkan suara-suara tak jelas.

Alhasil, Nona pun menjadi frustrasi, kemudian memutuskan untuk merobek semua mulut dan mencongkel semua mata yang tersemat di tubuhnya. Hingga akhirnya, Nona pun meregang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan.

***

Semenjak kematian Nona, ada banyak orang yang malah berlomba-lomba agar tubuhnya bisa disemati mulut dan mata; agar seluruh tubuhnya bisa berbicara dan melihat—kaki berbicara, pantat melihat, tangan berbicara, ketiak melihat, alat vital berbicara, punggung melihat, jidat berbicara, telinga melihat, mata berbicara, mulut melihat, dubur berbicara. Dan, ketika hal semacam itu benar-benar terwujud, orang-orang tersebut pun akhirnya bertindak seperti halnya Nona: merobek semua mulut dan mencongkel semua mata yang tersemat di sekujur tubuh mereka. Hingga pada akhirnya, mereka semua pun meregang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan. Namun, entah kenapa keanomalian semacam itu malah dianggap biasa saja, dan menjadi sesuatu hal yang sangat wajar.

Temanggung, 2013

—oOo—