Nyai Kembang Asem

5184 3096 Rengga Bagus Nanjar

KAU masih saja bertahan, meski laku tuanmu kerap arogan. Entah sudah berapa banyak tubuhmu kena siksa; perutmu kena tendang, kepalamu kena pukul, dan kakimu kena lempar. Kau terbilang setia, meski kerap meronta tapi tak pernah berontak. Padahal, berkali-kali kau telah dibuang. Tapi berkali-kali pula kau tetap pulang ke rumah tuanmu yang terletak di ujung gang.

Mungkin, kau itu adalah reinkarnasi budak zaman Cleopatra, yang begitu setia menghamba pada tuannya. Tapi, sekarang ini zaman merdeka; zaman bebas yang cenderung kebablasan. Kau seharusnya bisa memanfaatkan kemerdekaan zaman, dengan berontak dan menolak penindasan. Tapi, sepertinya kau lebih memilih bertahan di bawah penindasan.

Kau itu benar-benar kucing gudik yang tak kenal hangat belaian ataupun usapan manja dari sang tuan. Kau hanya mengenal siksa, dan kerap melahap makanan sisa dari tuanmu yang kauanggap mulia. Bahkan sekali pun kau tak pernah merasakan empuknya ranjang milik manusia. Hanya sekadar keset kumal di teras rumah yang bisa kaujadikan alas saat terlelap. Itu pun setelah sebelumnya kau kena tendang dan lemparan asbak karena berisik mengeong di dalam rumah.

***

DI ATAS pangkuan Nyai, Sri begitu dimanjakan. Dibelai tubuhnya, diusap lehernya, dan bahkan dinina-bobokan mengunakan iringan uro-oro. Nyai begitu sayang pada Sri. Dua hari sekali, tubuh Sri yang dipenuhi bulu warna kembangasem tersebut dimandikan oleh Nyai; dibasuh menggunakan air hangat dan dikramasi menggunakan shampo merang. Tak pelak, ketika diusap-usap, bulu tubuh milik Sri terasa begitu lembut dan nampak bersih.

Antara Nyai dan Sri seperti ada chemistry. Sebuah chemistry yang mungkin hanya mereka berdua saja yang bisa memahami. Dan, karena adanya chemistry tersebut, Nyai menjadi begitu menyanyangi Sri seperti anaknya sendiri. Jangankan menendang, mengomeli Sri pun Nyai tak pernah. Bahkan, ketika Sri buang hajat di atas kasur pun Nyai tetap tak murka. Ya, Nyai tak pernah sekali pun menyiksa Sri; perlakuan Nyai terhadap Sri tak ubahnya seperti perlakuan seorang Ibu yang mengasuh anaknya sendiri.

Pernah suatu ketika kepala Sri terluka karena tercakar kucing liar. Nyai begitu amat sedih, bahkan Nyai sampai menangis histeris. Pun demikian juga ketika Sri mendadak muntah-muntah karena tersendak duri ikan asin. Nyai begitu iba, tapi Nyai sadar tak bisa berbuat banyak untuk menolong Sri.

***

Nyai Dasimah, tapi orang-orang biasa menyebut beliau Nyai Kembang Asem. Ia tinggal berdua bersama seekor kucing kesayangannya di sebuah desa yang terletak di pinggiran kota. Sedangkan Srianak semata wayang Nyai Dasimahsudah tak pernah lagi pulang ke rumah dan tak pernah mengirim kabar sejak menikah dengan orang kota empat tahun silam.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nyai hanya mengandalkan hasil panen dari tiga petak sawahpeninggalan almarhum suaminyayang ia buruhkan pada tetangganya. Tak terlalu banyak memang hasilnya, tapi sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Nyai dan seekor kucingnya.

Dulusebelum Sri menikahketika gelap-petang mulai merapat, Nyai dan Sri kerap menghabiskan waktu dengan membuat keranjang dari bambu. Begitu juga setelah Sri pergi meninggalkan rumah, Nyai masih tetap menyibukkan diri dengan kebiasaannya membuat keranjang dari bambu. Namun, alih-alih hendak membunuh sepi, kegiatan membuat keranjang tersebut malah menjadikan Nyai semakin merasa sepi, menjadikan Nyai makin tersiksa dengan keadaannya yang hidup seorang diri.

Selama dua bulan setelah kepergian Sri, Nyai mulai dihinggapi beragam bentuk ketakutan yang sebelumnya tak penah Nyai temui. Ya, seperti bentuk ketakutan seorang Ibu ketika mendapati kenyataan bila perannya sebagai orangtua sudah mulai berakhir. Lalu berlanjut pada bentuk ketakutan lainnya yang kerap membuat orang menjadi frustasi.

Dan, sejak saat itu, Nyai mulai tenggelam dalam beragam bentuk ketakutan. Nyai mulai melamun, kadang leyeh-leyeh di kasur, kadang uro-uro di dapur, terkadang pula mengaji. Dan, ketika sedang mengaji, Nyai seperti menemukan ketentraman hati. Tapi, selesai mengaji, Nyai kembali dihinggapi beragam bentuk ketakutan lagi.

Hal tersebut terus-menerus terjadi. Hingga pada bulan keenam setelah kepergian anaknya ke kota, ada seekor anak kucing berwarna bulu kembang asem—entah datang dari manamengeongeong di depan rumah Nyai. Dan, oleh Nyai, anak kucing tersebut kemudian dirawat, dipelihara, dan diberi nama—sama persis dengan nama anaknya: Sri.

***

ENDAP geming berkali dalam sembunyi, intai gerik laku picik. Lumayan tenang, meski terkadang kau gegabah menyerang. Sergapmu tak tepat, kurang cepat, hingga mangsa pun minggat, sekelebat. Ujungnya, pasti kau puasa. Atau jika mujur, kau bisa menyelinap masuk ke dalam dapur.

“Sri! Kucinge nggondol opo kae?”

Kau pun lantas lari tunggang-langgang, cari aman, lesat cepat dulang selamat. Tak peduli tongkol tergigit tinggal secuil, asal tuanmu yang bernama Sri tak menggebuk tubuhmu menggunakan sutil.

Tapi, sepertinya kau itu memang benar-benar reinkarnasi budak zaman Cleopatra. Tak kenal jera meski ditekan di bawah dera dan siksa. Kau memang setia, meski laku tuanmu kerap arogan. Entah sudah berapa banyak tubuhmu kena siksa: perutmu kena tendang, kepalamu kena pukul, dan kakimu kena lempar. Padahal, berkali-kali kau telah dibuang. Tapi, berkali-kali pula kau tetap pulang ke rumah tuanmu yang terletak di ujung gang.

Pun seperti malam ini, kau masih saja hilir-mudik di rumah tuanmu yang bernama Sri. Kau sama sekali tak takut, juga tak menyadari telah membuat tuanmu menjadi geram. Tanpa dosa tanpa waspada, kau kembali menyelinap masuk ke dalam rumah—tepat saat keluarga tuanmu tengah makan malam. Tapi tak seperti biasanya, kali ini tuanmu tak mengusirmu, tak juga menyiksamu. Tuanmu malah memberimu sepotong tongkol, dan membiarkanmu berisik mengeong-eong.

Kau kenyang malam ini, tanpa harus bersusah-payah memburu tikus di atas ternit. Tapi, sayangnya, ketika kau hendak terlelap di atas sofa di ruang tengah, kau tiba-tiba saja diringkus; dimasukkan ke dalam karung oleh tuanmu. Kau pun hanya mampu mengeong tanpa bisa memberi perlawanan yang berati. Seperti yang sudah-sudah, nampaknya tuanmu hendak membuangmu kembali. Tapi entah hendak dibuang ke mana tubuh gudikmu kali ini….

“Mampus!” ucap Sri setelah melemparkan karung berisi kucing gudik dari atas jembatan.

***

Tuanmu terkejut pakai kepalang, dapati tubuh gudikmuyang telah dibuang ke kaliberdiri di ambang pintu tanpa mengeong. Tuanmu menampar pipi, mengucek mata, lalu menendang tubuh gudikmu dengan sekuat tenaga.

Bluuuk  … “Meooong…”

Kau pun lantas lari tunggang-langgang, lesat cepat dulang selamat. Entah kemana….

Tapi, selang sehari kau datang lagi, dan membuat tuanmu yang bernama Sri terhenyak setengah mati. Tuanmu pun akhirnya frustasi, ia lantas memasukkan tubuh gudikmu ke dalam karung goni. Namun, kali ini tuanmu tak hendak membuangmu ke kali, melainkan hendak membakar tubuh gudikmu hidup-hidup. Ya, seliter bensin telah disiram, pematik api pun telah menyala.

Wuuugh…. Dalam sekejap, karung goni beserta tubuh gudikmu terbakar. Kau pun lantas lari tunggang-langgang. Tapi, sepertinya kau tak selamat.

***

SETIAP kali menyuapkan makanan ke mulutnya, Nyai selalu saja teringat pada anak semata wayangnya yang tak diketahui lagi rimbanya. Jika sudah begitu, biasanya Nyai akan menghentikan prosesi makannya, kemudian melebur getir dengan cara menangis. Miris, memang. Tapi, sesungguhnya Nyai tak benar-benar sendirian ketika merayakan sedih. Sebab, Srikucing kesayangannyaselalu setia menemani, selalu mampu mengusir sepi, dan selalu menjadi tempat pelampiasannya untuk meredam kerinduan yang kerap menyanyat hati.

Dan, ketika Nyai merasa rindu pada sosok anaknya, hanya Srikucing kesayangannyayang menjadi tempat untuk berbagi. Lewat usapan serta belaian lembut pada tubuh Sri, Nyai mencoba melampiaskan kerinduannya; sebuah belaian yang menyiratkan begitu banyak arti, sebuah belaian yang penuh dengan penghayatan tentang getir kerinduan, dan sebuah belaian yang penuh dengan hasrat kasih sayang.

Menyedihkan, memang. Tapi, meskipun Nyai telah kehilangan rimba anak semata wayangnya, namun Nyai tetap berusaha untuk tetap mempertahankan perannya sebagai orangtua dengan caranya sendiri: terus mendo’akan dan menyanyangi anaknya tanpa kenal menyerah, tanpa mengenal lelah, dan tanpa mengenal jera, sekalipun sosok anaknya telah hilang dari nampak. Sebab, bagi Nyai, sosok anaknya tak pernah hilang dari rasa; selalu ada dan tetap nyata.

(*)


Temanggung, 2013