Pesan yang Disunat

5184 3096 Rengga Bagus Nanjar

/1/

Aku pernah membaca pesan-pesan tersebut di banyak dinding, di trotoar jalan, di bibir cangkir, dan di pelbagai tempat yang kadang tak terjamah oleh mata kamera. Aku juga pernah mengambil beberapa huruf dari pesan-pesan tersebut—diam-diam—kemudian aku simpan dalam saku celana.

Kadang, secara sengaja aku kerap mengabaiakannya; membiarkannya tersemat tanpa perhatian, atau mendiamkannya tanpa sepatah salam. Ya, diam-diam, di balik acuh dan perangai—sok—antipati yang kumainkan, sebenarnya aku menaruh banyak tanya serta harap: apakah mereka bisa merangkai diksi sederhana untukku, yang sekiranya bisa membuatku merasa tenang dan nyaman barang hanya sesaat?

Aku diam, kemudian menyulut kretek lokal yang kubeli dengan cara mengecer. Ah, aku jadi teringat tentang keluh-kesah, cemas, was-was, gusar, dan juga ketar-ketir, para petani tembakau di berbagai pelosok negeri. Hapus atau minimal revisi PP Nomer 109, kata mereka.

Berbagai orasi, demo, serta aksi damai petani, yang kadang kala diboncengi modus para politisi kerap aku ikuti. Tapi, bukan lantaran aku bagian dari petani dan bukan juga bagian dari para politisi hingga aku bisa bercerita tentang hal ini. Semua tak lain tak bukan karena aku adalah pewarta, namun jangan sebut aku wartawan. Sebab, aku tak ingin disamakan dengan mereka yang gemar mencari berita tapi tak mau berjabat tangan ketika berpapasan di tempat kejadian perkara.

/2/

Lantaran terlalu sering membaca banyak pesan, aku jadi terbiasa menyusun buah catur dengan terbolak-balik. Ya, hal tersebut sengaja aku lakukan guna mengecoh lawan mainku. Pasti! Si lawan mainku akan langsung berguman “Bisa main nggaksih?” Kemudian, ia pasti akan menyematkan remeh di beberapa langkahnya. Selanjutnya, aku hanya tinggal meniup kepalanya hingga membesar; aku tusuk di bagian mana saja menggunakan jarum pentol. Door! Selesai perkara. Hatinya koyak, mulutnya menganga, dan mentalnya, langsung ejakulasi dini. Tak perlu unjuk gigi lagi, apalagi menata buah catur kembali. Cukup menyunggingkan bibir, kemudian beringsut dan biarkan si pencundang menelan kecut.

Sebenarnya, bukan sebuah rahasia lagi ketika permainan otak—macam catur—bisa diakali dengan cara yang membumi: aspek sosiologi dan antropologi. Ya, meskipun keabsahannya belum bisa dipertanggungjawabkan, namun metode tersebut terbilang cukup efektif bila diterapkan pada kalangan menengah ke bawah: kaum kelas teri. Itulah sebabnya kenapa para politisi tak pernah sudi berkonspirasi dengan kaum kelas teri dan lebih memilih para kapitalis sebagai kawan berbagi picik. Hal tersebut tak lain tak bukan lantaran para kapitalis lebih lihai dalam urusan berkerah putih dibanding kaum kelas teri yang kerap mati dini karena bunuh diri. Jika pun ada politisi yang merangkul kaum kelas teri, hal tersebut sudah bisa dipastikan bila itu tai!

Analoginya seperti buah catur yang dengan sengaja disusun terbolak-balik. Kuda di tempat mentri, mentri di tempat luncus, luncus di tempat pion, pion di tempat benteng, benteng di tempat raja, raja di tempat pion, pion tak bisa makan – raja disalahkan, kuda terjengkang – luncus jadi kambing hitam, benteng ongkang-ongkang – mentri cari muka, raja hampir mangkat – pion jadi tumbal, luncus lari lurus – benteng jalan serong, mentri banyak aksi – pion dikebiri, raja geser sedikit – luncus malah bernyanyi, kuda buka suara – mentri langsung minggat, entah ke mana….

/3/

Pening juga kepala jika terlalu banyak membaca pesan-pesan yang tersemat di pelbagai bagan. Ujung-ujungnya pasti akan datang ke warung, beli pereda pening yang satu plengnya dibandrol dengan harga duaribu, dan enamratus rupiah untuk harga ecerannya. Jika ingin penawar yang plus-plus, cukup sediakan minimal tigapuluhribu sampai limapuluhribu untuk upah si empunya blazer putih yang telah sudi meraba-raba dada, dan jika mujur, akan mendapat bonus sengatan lebah di bagian pantat. Njuuus….

Kurang puas?! Tanang. Akan ada parodi bernama Generik yang memang merakyat. Di mana si Generik ini, jika harganya dilipat-lipat sedemikian rupa, maka jumlahnya akan sepadan dengan bea kuliah si cenanyang medis. Tak hanya itu, si Generik juga memiliki efek samping yang terbilang cukup tepat untuk ukuran rakyat, terlebih untuk para pemalas yang kerap berpura-pura mengantuk ketika tengah rapat. Bangsat! Kapan ada Generik yang bisa membuat tampan, yang bisa membuat sadar, yang bisa membuat para selebriti poster dan baliho tak hanya membual semata, namun juga membuktikannya lewat tindakan nyata. Kapan, hah?!

/4/

Tuak kekinian yang tertenggak dari gelas yang kesekian. Kecut, langu, dan pastinya akan membuat lambung mencak-mencak. Bagaimana tidak? Sebab, sejatinya yang kutenggak memang bukan tuak, melainkan kopi robusta lokal yang terseduh tanpa gula. Ya, tanpa gula. Pasalnya, uang belanja bulanan harus dipangkas sedemikian rupa agar anakku yang masih balita bisa menenggak susu dengan layak. Alhasil, aku yang harus rela menelan getah lantaran anggaran untuk membeli gula yang mesti di sunat. Tak apalah, yang penting anakku tak menenggak air tajin. Itu meneyedihkan! Meskipun orang dulu bilang, air tajin itu menyehatkan. Ah, itu bisa-bisanya orang zaman dulu saja. Modus para orangtua agar bisa membeli togel A Seng dan juga produk bedak Viva. Iya, kan, Pak, Bu, Mbah? Ngaku?!

Mendadak aku jadi teringat dengan si Mbok penjual nasi rames yang kerap buka lapak di barat terminal. Ia gemar berpesan tentang hal yang sama pada setiap pembelinya. Katanya, “Jangan menjelek-jelekkan pemerintah terlalu sering. Apalagi sampai membuat cerpen simbolik satire yang unsur intrinsiknya acak-kadul. Jangan, ya! Sebab, jika cerpen semacam itu dipublish di blog ataupun nonggol di koran Minggu kemudian dibaca oleh pemerintah, bisa berabe urusannya. Repot, deh, kalau semisal pemerintah sampai bertobat. Bakal tak ada lagi yang bisa dijelek-jelekkan.”

Nahlooo! Coba tebak, itu si Mbok aslinya sarjana sastra yang sudah banting setir jadi penjual nasi rames atau mantan cerpenis yang frustasi lantaran pernah diancam akan dimejahijaukan oleh tukang sedot wc?

/5/

Jika tengah muak dengan dunia nyata, biasanya aku akan lansung melancong ke dunia maya; menghabiskan waktu berjam-jam di depan monitor untuk membaca pelbagai jenis pesan dengan berkawan segelas kopi tawar dan kretek eceran yang mesti kupuntung berkali-kali agar awet. Menyedihkan, memang. Tapi masih kalah menyedihkannya bila dibanding dengan hiruk-pikuk dunia maya. Seperti keberadaan sosial media yang perlahan-lahan mulai bisa menggantikan peran Pengadilan Negeri yang acap kali tak pernah berhasil menegakkan hukum di negeri ini. Alhasil, sebuah festival para hakim tanpa gelar Sarjana Hukum yang selalu mengusung meja hijau ke setiap postingan dan komentar di sosial media telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kekinian.

Pun demikian juga dengan forum-forum diskusi tingkat lokal maupun tingkat nasional. Kesemuanya hanya menjadi ladang mendulang maksiat. Atau lebih seringnya, menjadi media pertikaian yang berujung perpecahan. Memalukan!

/6/

Istriku mencak-mencak kala menemukan ada banyak huruf di saku celanaku. Katanya, aku telah melakukan kesalahan besar karena menyimpan huruf-huruf tersebut. Ah, yang dikatakan istriku memang benar. Tapi, jika aku tak menyimpan huruf-huruf tersebut, mana bisa aku membelikan baju baru untuk istriku, mana bisa aku membelikan mainan untuk anakku, dan mana bisa aku mengakhiri derita kopi tawar serta rokok eceranku?

Ya, aku memang pewarta. Tapi tidak semua harus kuberitakan. Terlebih bila yang tengah diberitakan memintaku untuk tidak mengungkapkan semuanya. Biasanya mereka memintaku untuk begitu karena alasan citra, keamanan, atau lebih seringnya, karena tidak layak, katanya. Ya, jika sudah begitu, apa yang hendak aku wartakan terpaksa aku sunat; aku ambil beberapa hurufnya kemudian—secara diam-diam—aku simpan dalam saku celana.

/7/

Semenjak istriku sering mencak-mencak, aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun. Bahkan, aku juga sudah malas menjadi pewarta. Hingga akhirnya, aku mulai mengisi hari-hariku dengan merangkai huruf-huruf yang pernah kusimpan di dalam saku celana. Dan, ternyata kepuasan batin yang kudapat begitu memuaskan. Kemudian, aku mulai berani untuk merangkai beragam berita yang dulu pernah kusunat ke dalam sebuah cerita fiksi. Dan, hasilnya sungguh luar biasa; aku mendapatkan kepuasan batin yang sebelumnya tak pernah kurasa. Ternyata, apa yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma ada benarnya. Bila ketika jurnalisme dibungkam, maka sastralah yang berbicara. Tapi, apakah cerita fiksi yang kubuat layak untuk disebut sastra? Kurasa, tidak!

Makin hari, kebiasaanku dalam merangkai huruf dan berita yang pernah kusunat makin menjadi-jadi. Bahkan, aku mulai berani menjelek-jelekkan pemerintah, mengumpat kapitalis, dan juga mengolo-olok kaum kelas teri. Kemudian, aku pun mulai menulis cerpen simbolik satire, lalu mengirimkannya ke koran lokal dan nasional. Semoga saja dimuat, lalu dibaca oleh mereka-mereka yang aku jelek-jelekkan. Perkara mereka akan marah, mereka akan malu, ataupun mereka akan tobat, itu adalah hak mereka. Aku tak peduli! Yang penting dari hasil menjelek-jelekkan mereka aku bisa membelikan susu untuk anakku, bisa membelikan baju baru untuk istriku, dan juga bisa membeli gula satu kilo serta kretek yang pastinya tidak akan mengecer.

/8/

Aku kembali membaca beragam pesan yang kerap tersemat di trotoar jalan, di bibir cangkir, di rumah-rumah kardus, di wajah pongah para politisi, dan di pelbagai tempat yang kadang tak terjamah oleh mata kamera. Aku juga akan mengambil lebih banyak huruf dari pesan-pesan tersebut, diam-diam kemudian akan aku simpan di dalam saku celana. Untuk selanjutnya, pesan-pesan tersebut akan aku sematkan pada setiap cerpen yang aku buat. Termasuk pada cerpen yang tengah kalian baca sekarang.

—oOo—

Temanggung, 2013