Ranjang dan Percakapan tentang Kursi Roda

5184 3096 Rengga Bagus Nanjar

Ia menggebukkan sapu lidi pada bagan kasur berkali-kali, isyarat bahwa ia memanggil siapa saja yang mendengar.

“Mau apa, Mak?”

“Makan.”

Untuk persoalan ini, biasanya apa saja yang ada di atas meja makan akan langsung berpindah tempat ke ranjang.

“Mau apa lagi, Mak?”

“Sudah.”

Pada kesempatan yang berbeda, ia akan sedikit memaksakan diri; menggesar badannya secara perlahan—kepayahan—guna meraih gelas yang terletak di atas meja kecil di samping ranjang.

Kadang, pada jam-jam yang sudah ia hafal bila tak akan ada yang mendengar sekalipun ia menggebuki kasur hingga lelah, melamun atau sekadar menyibukan tangan dengan menggaruk-garuk pantat dan kepala merupakan pilihan yang dirasanya paling bijak, setidaknya sampai ada yang mendatanginya.

“Mak, pampers-nya jangan suka diplorotin. Tahinya jadi ke mana-mana. Sudah dibilangin berkali-kali tapi masih diulangi terus.”

“Emak risih…”

“Aku lebih risih, Mak!”

Jika sudah bertemu situasi macam itu, ia akan menunduk; diam sambil menunggui si Maryam selesai menyibinnya.

Pampersnya jangan diplorotin lagi ya, Mak!”

***

Pernah suatu kali Maryam bertengkar dengan suaminya hanya karena perbedaan pendapat: suaminya hendak membelikan sebuah kursi roda untuk mertuanya, tapi Maryam tidak menyetujuinya.

“Mas pikir Emak itu orang cacat, hah?!”

“Bukan itu maksudku. Aku hanya kasihan melihat Emak di atas ranjang terus-terusan. Emak pasti bosan, dan hanya kursi rodalah yang mungkin bisa membantu Emak untuk kembali melihat dunia luar.”

“Oh, jadi Mas beranggapan bila Emak sudah tidak mungkin lagi bisa berjalan, ya?”

Assssh… “Bukannya begitu, Nduk. Tapi kita juga mesti realistis. Kamu masih ingat, kan, dengan apa yang pernah dikatakan oleh dokter?”

“Iya! Tapi bila Mas membelikan Emak kursi roda, hal tersebut hanya akan membunuh semangat Emak untuk bisa berjalan lagi. Pokoknya aku tidak setuju bila Mas membelikan kursi roda untuk Emak!”

Dari pertengkaran mulut semacam itu, biasanya akan muncul pertengkaran-pertengkaran lainnya yang sebetulnya bisa terhindarkan; pertengkaran-pertengkaran yang pada akhirnya sering membuat Maryam menjadi sedikit apatis pada suaminya.

Namun, meskipun sudah mengetahui bila keinginannya untuk membelikan kursi roda akan tetap ditentang, suami Maryam masih saja berusaha mengutarakan niatnya.

“Sampai kapan kamu akan menyiksa Emak?”

“Aku tidak menyiksa Emak, Mas! Aku hanya sekadar menjaga semangat serta perasaan Emak.”

“Semangat apa? Yang ada apa yang kamu lakukan itu hanya membuat Emak semakin menderita.”

“Mas! Sekalipun Emak menderita, tapi aku yakin bila Emak tidak akan menyerah. Aku paham betul watak Emak, ia tidak akan menyerah begitu saja pada keadaan.”

“Iya, tapi permasalahannya Emak itu sudah tidak sekuat dulu, Emak juga sudah tua, bahkan dokter pun mengatakan bila kemungkinan Emak untuk bisa kembali berjalan sangat tipis.”

“Mas, aku lebih percaya pada Emak dan Tuhan ketimbang mempercayai omongan dokter!”

Sebetulnya bukan hanya suami Maryam saja yang hendak membelikan kursi roda. Sri—adik kedua Maryam—pun memiliki keinginan dan pemikiran yang serupa dengan suami Maryam.

“Pokoknya aku tidak setuju bila Emak mesti memakai kursi roda!”

“Apa Mbak tidak kasihan pada Emak? Coba Mbak bayangkan perasaan dan penderitaan Emak: terbaring di atas ranjang selama lebih dari tiga bulan. Pasti bosan dan sangat menyiksa.”

“Justru karena aku sangat memahami perasaan Emak makanya aku tidak menyetujui bila Emak mesti menggunakan kursi roda, Sri!”

“Ah, Mbak itu memang persis almarhum Bapak. Keras kepala!”

“Aku melakukan ini semua juga demi kebaikan Emak. Sebab, sewaktu Emak masih sehat sampai kondisi Emak seperti sekarang ini, akulah yang mengurusi Emak. Jadi aku paham betul dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Emak. Kamu nggak bakal ngerti, Sri. Sebab, selama ini kamu tidak pernah mengurusi Emak.”

“Nah, kalau memang Mbak paham dengan keinginan Emak, seharusnya Mbak tidak menyiksa Emak.”

“Siapa yang menyiksa Emak? Aku merawatnya, Sri!

***

Kini ia tak lagi menggebuk-gebukkan sapu lidi di bagan kasur. Ia lebih memilih untuk diam—terdiam—di atas ranjang. Entah ia tenggelam oleh lamunan-lamunan sembarang atau ia memang sudah benar-benar menyerah pada keadaan. Entahlah…. Yang jelas, semenjak ia terjatuh di kamar mandi hingga saat ini, ia telah menjelma sebagai manusia ranjang; tak bisa beranjak ke mana-mana, sebab kakinya tak lagi berdaya.

“Perih…”

“Tahan, Mak. Pantat Emak itu lecet dan mesti diobati. Biar cepat kering lukanya.”

“Andai saja dulu bapakmu tidak mengantarkan mereka, mungkin Tuhan tidak akan menghukum Emak seperti ini.”

Huuush! “Emak itu bicara apa, sih?”

“Ini pasti hukuman dari Tuhan karena perbuatan bapakmu dulu.”

“Maksud Emak apa? Memangnya dulu Bapak pernah melakukan apa, Mak?”

 Suasana hening sejenak. Ia mengambil nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.

“Mendiang bapakmu dulu pernah bercerita, kalau bapakmulah yang mengantarkan orang-orang itu….”

“Orang-orang itu siapa?” saut Maryam penuh selidik.

“Mereka. Para algojo. Bapakmu jadi sopir yang bertugas mengantarkan mereka, termasuk mayat-mayat yang pada akhirnya dibuang ke dalam sumur. Dan, sebagai upahnya, mereka membelikan bapakmu sebuah rumah yang kita tempati sekarang ini.”

Maryam terdiam. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja diceritakan oleh emaknya.

“Sebenarnya ini rahasia antara emak, bapakmu, dan mereka. Tapi emak terpaksa menceritakan hal ini kepadamu. Sebab, emak menginginkan kamu belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh mendiang bapakmu dulu…”

Maryam kembali terdiam; merasa bingung mesti berkata apa dan harus melakukan apa.

Percakapan tersebut pun akhirnya berakhir dengan mengambang; ia tak melanjutkan kata-katanya, sedangkan Maryam, menyimpulkan sesuatu tentang emaknya di dalam benak: lantaran penyakit tua dan juga tekanan batin, Emak jadi suka mengada-ada.

***

Bulan kelima. Kadang ia masih suka melorotkan pampersnya, meskipun sudah tidak sesering dulu. Itu pun ia lakukan bila perih dari luka di pantat—yang didapatnya karena terlalu lama berbaring di ranjang—membuatnya sedikit merasa tak nyaman.

Demikian pula dengan Maryam, ia pun sudah jarang memarahi emaknya sekalipun didapatinya ada tahi yang tercecer di ranjang milik emaknya. Maryam lebih memilih bungkam; membersihkan ceceran tahi tanpa banyak berkata.

Namun, ketika mengantarkan sarapan untuk emaknya. Tiba-tiba saja Maryam melemparkan sebuah pertanyaan yang sebelumnya kerap ia tentang.

“Mak, kalau misalkan Emak naik kursi roda mau atau tidak?”

“Mau. Tapi emak takut!”

“Takut apa, Mak?”

“Takut kamu marah. Sebab, emak pernah mendengar kamu ribut dengan suamimu gara-gara soal kursi roda.”

—oOo— 

Temanggung, 2013