Seharusnya Kaubungkus Telinga Ibumu Kemudian Kausimpan dalam Saku

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

kau pernah berpulang pada lelah

menekuri keringat serta penat yang mengarat

“Adakah cara yang lebih tepat untuk mendulang pelukan selain keluhan?”

kau kembali berbincang, lebih tepatnya menyampaikan curhatan: casciscus tentang ini dan itu

“Njing…” blablabla

ah, serupa radio bodol—hampir modar—yang melantun keroncongan: takaran dengar-cuapnya tak berimbang

“Seharusnya kaubungkus telinga ibumu kemudian kausimpan dalam saku.”

“Untuk apa?”

“Agar ketika mengeluh, kau hanya perlu megeluarkan telinga ibumu dari dalam saku.”

“Bangsat! Kaupikir telinga ibuku sesajen kondangan, hah?!”

“Ya, seharusnya memang begitu. Karena hidup tak sekadar didengar, tapi juga mendengar.”