Tentang Titah dari Potret dalam Bingkai

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

ada yang giat meninjui langit setelah sekuadron mutan menyalakan petasan

mungkin, sangkalnya, itu semua adalah tindakan yang paling mulia

setidaknya menurut perundang-undangan Kitab Antaboga: sejenis serat zaman bahula yang ditulis pada daun lontar

kau tahu tidak, kawan? bila yang giat meninjui langit itu ternyata tak memiliki hidung, tak memiliki mata, dan tak memiliki sanak

jadi, pantaslah bila pada seperkian detik setelah para mutan menyalakan petasan, tingkah serta polah mereka akan serupa dengan perangai demonstran berjubah warna-warna terang: mengepalkan tangan di udara seraya meneriakkan babibu yang memekakkan telinga

“Tak lelahkah kalian selalu meninjui langit setelah para mutan menyalakan petasan?”

“Tidak! Sebab itu memang tugas kami.”

“Lantas, siapa gerangankah yang telah menitahkan tugas sekonyol itu kepada kalian?”

“Mereka, potret dalam bingkai yang kerap dipajang pada dinding sekolah dan perkantoran. Yang mana pada banyak kesempatan lebih sering terabaikan; dibiarkan mengusang dalam kunyahan rayap dan bercak hitam.”

“Siapakah yang kaumaksud itu?”

“Cobalah kaubertanya saja pada sejarah. Maka kau akan dapati jawaban yang sebenarnya.”