Yang Gemar Membaptiskan Dirinya Sebagai Tuhan dan Menjilati Tinja Milik Tetangga Setelah Berkenalan dengan Luka

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

/1/

aku mengenalnya pada sebuah luka

pada sebuah tanggapan yang sering diucapakan “Ah, itu biasa!”

mungkin kalian akan mengira bila aku tengah mengada-ada

tapi, nyatanya aku memang mengenalnya pada sebuah luka
/2/
pernah ada dua anak kecil mengajakku untuk bermain halma

tapi aku menolaknya dengan cara meludahi muka mereka

keesokan harinya, aku melihat kedua anak kecil tersebut tengah berciuman di depan pintu swalayan

dan, semenjak saat itu, aku mulai mempercayai bila yang tidak kentara oleh mata pasti bernama luka
/3/
Tong Che Leng pernah bercerita padaku tentang sebuah perihal

dan, ketika kutanya apa judul dari ceritanya, Tong Che Leng malah menyayat dadanya menggunakan bayonet; mengeluarkan seonggok merah yang pada salah satu cerpen karya Mashdar Zainal diberi nama luka, sepertinya, jika tak salah
/4/
setelah selusin karyanya mendapat rupiah, biasanya para penulis akan menaruh kelaminnya di jidat; bercas-cis-cus dengan pongah sembari menjilati tinja milik tetangga

setelah puas, mereka akan membaptiskan dirinya sendiri sebagai Tuhan: memberkati para bedebah yang sejalan serta mengutuki para cecunguk yang bersebrangan

ah, sepertinya mereka semua sudah lupa bagaimana caranya berkarya lantaran keasyikan menjadi bangsat

atau, jangan-jangan mereka itu adalah budak daripada luka (baca saja rasa, biar mudah dicerna agar sesegera mungkin menjadi tinja)

sudahlah…