Yang Luput dari Lagu Cinta Melulunya Efek Rumah Kaca; Melayu Lebih Bermutu ketimbang Gingseng yang Berjoget di Atas Panggung

5184 3456 Rengga Bagus Nanjar

Cakap nian kaubercerita. Menyusun aksara dengan pola rima yang bernada. Terkesan Melayu; mendayu bak gelombang di perairan Arafuru.

Ah, Kisanak terlalu jauh menganalogikan Melayu. Bukankah Arafuru berada di barat daya Papua? Sedangkan Melayu identik dengan Krakatau hingga ke barat laut?

Mungkin memang benar yang kauucap, Boi. Bila Melayu akan lebih tepat jika dianalogikan dengan Malaka, bukan Arafuru. Puas kau sekarang, Boi?!

Hahahaha…. Usah kau bermuram durjana begitu, Kisanak. Aku hanya sekadar meralat teori ngawurmu itu, tak lebih. Toh Kisanak juga tahu, kan, bila Melayu sekarang sudah menjamah Ibukota? Tengoklah para perajin  hiburan televisi dan radio, pada beberapa waktu yang lalu, sebelum para gingseng berjoget-joget di panggung, Melayu telah terlebih dulu mencuri banyak tempat di berbagai kesempatan. Sekalipun oleh sebagian kalangan yang sok kebarat-baratan, Melayu kerap dianggap sampah dan tak bermutu.

Aku senada dengan yang kaubilang, Boi. Bahkan sebelum Gus tf Sakai, Benny Arnas, serta Damhuri Muhammad, memainkan cengkok di beberapa cerpen mereka, seorang Hamzah Fanzuri pun sudah mampu memelayukan Indonesia melalui diksi-diksinya. Sekaliberlah dengan si Satria Bergitar.

Aih, lagi-lagi Kisanak ngawur, nih. Tolonglah, jangan bicara tentang sastra di sini, apalagi menggunakan teori ngawur. Nanti jika para pengikut A.S. Laksana dan Hermawan Aksan .cs mendengar, bisa habis kita: dicecar dengan beragam ba-bi-bu yang pedasnya bukan kepalang. Memangnya Kisanak mau, diganjar HAH level sembilan oleh mereka? Hahahahahaha….

Boi, lama-lama kau itu macam Andrea Hirata saja. Melarang orang lain mengatakan merah padahal kau sendiri bicara tentang merah.

Woles, Kisanak. Tak usah merajuk macam penyadap karet yang digigit nyamuk begitu. Kisanak dan aku, kan, sama-sama penikmat Melayu. Jadi kenapa pula mesti malu?

Ah, cakap nian kaubicara, Boi. Sampai-sampai kaumemaksakan rima agar apa yang kauucap terdengar bernada.

Setidaknya aku lebih ksatria dibanding badut-badut gingseng yang gemar memamerkan paha serta belahan dada untuk sesuatu yang disebut dengan hiburan. Hiburan memuakkan! Bikin muntah!